Dewi Sri Agro menyediakan bibit gaharu, ganitri, tanaman buah, sengon laut, dll, bibit sayuran dan saprotan, alamat jl. gerilya 68 kuripan kidul, kesugihan, cilacap.

Saturday, March 21, 2009

Agarwood management in the Forests of New Guinea

sumber (panda.org)

A fading sweet fragrance

An ordinary looking tree by-product from the Forests of New Guinea is driving an unprecedented craze on the island. Agarwood, also known as gaharu and eaglewood, is a much-sought product that is being extracted faster than its natural recovery.


With help from our friends, WWF is trying to make sure that agarwood continues to provide for local people’s needs in the decades ahead – without jeopardizing its natural occurrence.

This fragrant resinous wood, formed in the trees of the genera Gyrinops, Aetoxylon, Gongystylis and, more commonly, Aquilaria, has historically been in great demand from places such as Japan and the Middle East. It continues to be widely exported from places like New Guinea and the Heart of Borneo.

Victim of its popularity
High demand and decreasing supplies are pushing the price of agarwood up. Another side effect is the indiscriminate destruction of trees.

Now, populations of 8 species of Aquilaria have declined to the point where they have been categorized as threatened, according to the IUCN - The World Conservation Union. Adding to the problem is the inability of planted trees to produce the valuable resinous wood, making plantations to date worthless.

Redressing the trade
TRAFFIC, WWF’s and IUCN’s wildlife trade monitoring arm, has documented in detail the pressures on agarwood. Based on the trends suggesting over-exploitation of this heartwood, WWF has taken a range of steps in PNG to ensure trade is sustainable, including:

* Assessment of agarwood management areas
* Development of a framework to promote the sustainable management of agarwood resources
* Design of a community-based agarwood management plan

To educate and train local communities about the importance of agarwood as a resource, and encourage sustainable management of the industry, WWF has teamed up with local authorities and other non-government organizations under a project funded by the UN Food and Agriculture Organization (FAO).

Agarwood management teams have been set up in selected locations around PNG to work directly with rural agarwood farmers in practising and promoting sustainable harvest and trade.

WWF achievements

* Our knowledge of agarwood distribution has considerably increased over the past few years, as a result of biological surveys conducted by WWF and partners. These surveys have also resulted in the identification of at least 2 new species of agarwood in PNG.
* The Eaglewood Management Area concept will protect the habitat of at least 200,000 ha of agarwood forest.
* Training has been provided in low impact harvesting techniques for agarwood.
* A TRAFFIC study supported by WWF has identified that agarwood is improving village incomes in some areaS of PNG by up to 10-fold.
* Villages are receiving much higher prices for agarwood sales following training in harvesting and marketing conducted by WWF and partners.

Read more....

Haji Arfan, Kegigihan Melestarikan Gaharu

Sumber: Kompas. disadur dari sosok.wordpress.com

PEPATAH tua “sudah gaharu, cendana pula” bisa dipastikan menunjukkan betapa dikenalnya kedua jenis tanaman tersebut. Namun, selama ini yang dikenal dengan baik sebagai tanaman yang bernilai tinggi hanyalah kayu cendana. Sedang tanaman gaharu tidak banyak yang tahu kegunaannya, apalagi jika tanaman itu tumbuh sehat tanpa cacat, yang berarti nyaris tak punya nilai ekonomi.


Hingga seperempat abad lalu, gaharu (Aquilaria spp) yang banyak dijumpai di hutan Indonesia itu, tumbuh nyaris tanpa gangguan. Dalam proses pertumbuhannya, alam membuatnya tidak tumbuh normal, dalam arti, gangguan alam menyebabkan gaharu terinfeksi penyakit yang kemudian diketahui menghasilkan gubal gaharu. Gubal gaharu yang mengandung damar wangi (Aromatic resin) untuk bahan baku beraneka jenis wewangian inilah yang kemudian mendorong perburuan gaharu.

Sejak tahun 1970-an, perburuan gaharu mulai dilakukan besar-besaran karena nilai ekspor gubal yang tinggi. Lalu, dalam waktu 10-15 tahun setelah itu, tanaman gaharu di Indonesia mulai terancam punah, terutama karena belum dikenalnya teknologi budidaya gaharu dan teknologi memproduksi gubal. Apalagi meluasnya perburuan kayu gaharu dilakukan dengan penebangan yang sia-sia. Artinya, banyak pohon gaharu yang tidak mengandung gubal ditebang dan mati.

Melihat kenyataan itu, Haji Arfan (63) di Dusun Lembah Sari, Desa Pusuk, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat (Nusa Tenggara Barat/NTB), terdorong membudidayakan pohon gaharu. Terutama melihat kenyataan hutan Pusuk yang diketahui baik untuk vegetasi gaharu, nyaris tidak lagi ditemui gaharu. Dengan mengumpulkan anakan dan biji gaharu dari sisa-sisa pohon gaharu yang masih tumbuh di hutan Pusuk, ia kemudian gigih membudidayakan tanaman itu. Setidaknya, sejak tahun 1992 muncul harapan tanaman gaharu bisa dilestarikan. Apalagi, usaha itu didukung serangkaian penelitian Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian Universitas Mataram (Unram), Dinas Kehutanan NTB, bahkan Departemen Kehutanan.

Paling tidak, tanaman gaharu tumbuh subur di hutan Pusuk pada areal sekitar 60 hektar yang ditanam bekerja sama dengan Dinas Kehutanan dan 20 hektar yang ia tanam sendiri. Belum lagi dari jutaan bibit yang ia hasilkan, bukan saja tumbuh di hutan dan kebun, tapi juga di pekarangan penduduk terutama di Pulau Lombok.

***

USAHA membudidayakan gaharu tidak lepas dari ketekunannya bekerja mencari nafkah untuk kehidupannya bersama istri dan 12 anaknya. Ketekunan berusaha itu terlihat sejak Arfan menjadi pengusaha kayu bakar tahun 1963-1975. Setiap hari ia membeli sekitar 100 meter kubik (m3) kayu bakar dari penduduk dan dijual tiga kali seminggu ke Mataram, ibu kota NTB yang jaraknya sekitar 20 km dari Pusuk.

Ketika itu ia mengetahui di kawasan hutan Pusuk semakin sulit dijumpai tanaman gaharu. Kalaupun ada tanaman di kebun masyarakat, tidak terawat dengan baik. Karena itu, ia merelakan sebagian waktunya untuk mencegah kepunahan kayu tersebut dengan melakukan budidaya pembibitan dan penanaman pohon gaharu.

Bagi Arfan, kegiatan membudidayakan tanaman hutan bukan hal asing. Sejak tahun 1978, ketika ia diangkat menjadi tenaga honorer sebagai mandor hutan pada Dinas Kehutanan Lombok Barat, ia biasa membibitkan tanaman penghijauan/reboisasi seperti mahoni, sonokeling, sengon, dan tanaman buah. Bibit tanaman itu dijual kepada Dinas Kehutanan dan masyarakat yang membutuhkan, untuk menutupi kebutuhan hidup keluarganya.

Di sela-sela tugasnya itu, sejak tahun 1992 Arfan mengumpulkan anakan dan biji gaharu dari hutan Pusuk dan membibitkan serta menanamnya pada kebun di pekarangan rumahnya. Namun diakui, kegiatan ini tidak mudah karena kegagalan tidak jarang dialami akibat kurangnya pengetahuan tentang gaharu. Namun, ia terus mencoba hingga diketahui cara dan kondisi lingkungan yang baik untuk lokasi pembibitan gaharu.

Pada awalnya bibit gaharu dijual dengan harga Rp 100 per pohon. Baru belakangan ia memperoleh harga Rp 2.500. “Tapi, bibitnya sudah mulai sulit dicari dan sekarang paling banyak sekitar 25.000 bibit/anakan setahun,” jelas Arfan.

Dalam menjalankan kegiatannya, usahanya Arfan tidak selalu berjalan mulus. Misalnya, tanaman gaharu yang ia kembangkan pernah habis dijarah. Namun, hal itu tidak menyurutkan keinginannya mengembangkan budidaya gaharu. Bahkan, berbekal honor sebagai mandor hutan dan sebagai buruh pada kegiatan reboisasi serta hasil penjualan tanaman bibit penghijauan ia meneruskan usahanya.

***

MESKI kegiatan yang dilakukan selama ini membuat Arfan meraih Penghargaan Kalpataru 2002, namun ia berterus terang sukses yang diraih itu tidak lepas dari kerja sama dengan berbagai pihak. Bahkan, lewat kerja sama dengan Dinas Kehutanan Lombok Barat tahun 1995, ia terlibat dalam proyek percontohan budidaya gaharu di hutan Pusuk pada areal 60 hektar.

Bantuan uang pemeliharaan Rp 5 juta per tahun dari Dinas Kehutanan, bisa ia sisihkan sebagian untuk mengembangkan sendiri budidaya tanaman gaharu. Pada areal 20 hektar juga di hutan Pusuk, tanamannya kini berusia 6-7 tahun. Kebun gaharu ini kemudian lewat kerja sama dengan Universitas Mataram dijadikan lokasi penelitian tanaman gaharu Fakultas Pertanian dan Laboratorium Bioteknologi Unram. Di kebun inilah Unram meneliti proses terjadinya gubal gaharu yang menghasilkan teknologi gubal gaharu.

Hasil penelitian itu yang kemudian mempercepat proses berkembangnya minat masyarakat menanam gaharu. Karena dengan ditemukannya sejenis jamur yang bisa menyebabkan pohon gaharu terinfeksi penyakit lalu menghasilkan gubal.

Dalam hal ini, Arfan bersama sekitar 10 orang rekannya di Desa Pusuk, menyediakan bibit yang disebarluaskan ke berbagai daerah di NTB, bahkan ke luar NTB. Sementara Dr Ir Parman, Kepala Laboratorium Bioteknologi Unram, menyediakan sejenis jamur yang disuntikkan ke batang pohon agar menghasilkan gubal.

Oleh sebab itu, kalangan pengusaha, aparat kehutanan dan pemerintah daerah serta masyarakat mendukung upaya budidaya yang dikaitkan dengan pengembangan hutan kemasyarakatan. Bahkan, dengan tersedianya tenaga ahli dan temuan rekayasa untuk memproduksi gubal oleh Dr Ir Parman, Pulau Lombok diharapkan menjadi salah satu pusat pengembangan tanaman gaharu.

Harapan Arfan, tentu saja masyarakat berkenan mengikuti jejaknya. Karena bukan saja tanaman gaharu bisa dilestarikan, tapi juga memberi penghasilan yang tidak bisa dibilang kecil. Dengan harga bibit Rp 2.500 per pohon, lalu menyediakan dana untuk menyuntikkan jamur dengan biaya sekitar Rp 50.000 untuk setiap pohon. Jika suntikan berhasil dan terbentuk gubal, keuntungan pemilik pohon bisa dibayangkan jauh sebelumnya. Setidaknya, satu kilogram gubal kualitas utama harganya sekitar Rp 2 juta-Rp 3 juta.

Namun, iming-iming ini belakangan tidak mendorong seluruh lapisan masyarakat ikut mengembangkan gaharu. Yang justru memprihatinkan Arfan ialah ulah segelintir orang yang justru bisa membuat warga enggan membudidayakan gaharu.

Ini terutama karena masih banyak orang yang lebih memilih jalan pintas agar lebih cepat memperoleh keuntungan tanpa kerja keras. Mereka itulah yang kemudian menjarah tanaman gaharu di hutan, kebun dan pekarangan.

“Bayangkan saja, tanaman gaharu setinggi satu meter dicuri dan belum tentu bisa hidup lagi,” jelasnya kecewa.

Paling tidak, kejadian itu membuat Arfan merasa gagal mendorong masyarakat meningkatkan taraf hidup dengan kerja keras dan ketekunan. Keteladanannya akan semakin tidak dirasakan jika sikap masyarakat seperti itu tidak segera dihentikan. Apalagi jika kemudian menjadi pendorong punahnya kembali tanaman gaharu. []

Read more....

Tantangan Agribisnis dari Si Wangi Gaharu


bibit Aquilaria malaccensis


Gaharu merupakan substansi aromatic berupa gumpalan berwarna coklat muda sampai hitam yang terdapat diantara sel-sel kayu. Tanaman yang bisa menghasilkan gaharu biasa disebut Pohon Gaharu. Sebaran Pohon Gaharu di Asia diantaranya adalah di India, Laos, Burma, Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. Sedangkan di Indonesia sendiri Pohon Gaharu tersebar di Pulau Irian, Sumarta, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, maluku dan sedikit di Jawa bagian Barat.
Adapun jenis Pohon Gaharu dan penyebarannya di Indonesia adalah:
1. Aquilaria malaccensis (Sumatra dan Kalimantan)
2. Aquilaria beccariana (Sumatra dan Kalimantan)
3. Aquilaria microcarpa (Sumatra dan Kalimantan)
4. Aquilaria filaria (Irian dan Maluku)
5. Aquilaria cumingiana (Sulawesi)
6. Aquilaria tomntosa (Irian)
7. Grynops audate dan Grynops podocarpus (Irian)
8. Grynops versteegii (Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi, dan Irian)
9. Wikstoemia androsaemifolia (Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, dan
Sulawesi).


Dan masih banyak lagi beberapa spesies pohon penghasil Gaharu yang tersebar di kedalaman hutan di Indonesia.
Dari beberapa spesies pohon penghasil gaharu diatas, pohon dari marga Aquilaria memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dan yang paling banyak diburu adalah Aquilaria malaccensis karena gaharu yang dihasilkan memiliki mutu yang sangat baik.

Manfaat Gaharu

Gaharu mengandung essens yang disebut sebagai minyak essens (essential oil) yang dapat dibuat dengan eksraksi atau penyulingan dari gubal gaharu. Essens gaharu ini digunakan sebagai bahan pengikat (fixative) dari berbagai jenis parfum, kosmetika dan obat-obatan herbal. Selain itu, serbuk atau abu dari gaharu digunakan sebagai bahan pembuatan dupa/hio dan bubuk aroma therapy.
Daun pohon gaharu bisa dibuat menjadi teh daun pohon gaharu yang membantu kebugaran tubuh. Senyawa aktif agarospirol yang terkandung dalam daun pohon gaharu dapat menekan sistem syaraf pusat sehingga menimbulkan efek menenangkan, teh gaharu juga ampuh sebagai obat anti mabuk.
Ampas dari sulingan minyak dari marga Aquilaria di Jepang dimanfaatkan sebagai kamfer anti ngengat dan juga mengharumkan seluruh isi lemari. Oleh masyarakat tradisional Indonesia, gaharu digunakan sebagai obat nyamuk, kulit atau kayu gaharu dibakar sampai berasap. Aroma harum tersebutlah yang tidak disukai nyamuk (sumber: majalah Trubus).

Cara Menanam dan Pemeliharaan

Pohon penghasil gaharu secara umum tidak memerlukan syarat tumbuh yang khusus, pohon dapat tumbuh dengan baik pada struktur tanah yang ringan sampai berat dengan terkstur lempung ataupun pasir. Secara ekologi dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian 0 - 2.400 meter dpl, kelembapan 60 – 80 % dengan curah hujan 1.000 – 3.500 mm/th.
Penanaman dimulai dengan membuat lubang tanam dengan kedalaman 30 cm, panjang dan lebar lubang 30 cm. Setelah lubang terbuat, isi lubang dengan pupuk organik matang sampai kedalaman lubang menyisakan 15 cm. Kemudian taburkan 1 sdm akarisida (furadan, marshal, atau rugby) untuk melindungi tanaman dari serangan anjing tanah (orong-orong), gasir, dan hama lainnya yang hidupnya di tanah. Setelah penaburan akarisida, bibit tanaman dikeluarkan dari polybag dan usahakan tanah dalam polybag jangan sampai pecah.
Masukan bibit dengan tinggi minimal 30 cm ke lubang dan lubang diurug dengan tanah yang dicampur dengan pupuk organik dengan perbandingan 1:1. Setelah lubang tertutup oleh tanah, taburkan lagi akarisida di sekeliling tanaman sebanyak 1 sdm kemudian siram dengan air. Pemberian akarisida akan melindungi tananam pada masa kritis yaitu sebelum tanaman berumur lebih dari 3 bulan.
Pemeliharaan dilakukan dengan penyiangan dan pemberian pupuk organik setiap 2 bulan dan pemberian pupuk NPK pabrik setiap 4 bulan sampai tanaman berumur 3 tahun dengan dosis disesuaikan. Setelah tanaman berumur lebih dari 3 tahun pemberian pupuk dilakukan setiap 6 bulan dengan dosis 250 gram/pohon ditabur disekitar pangkal pohon kemudian ditutup dengan tanah.
Usahakan tanaman mendapatkan air yang cukup dan jangan sampai terendam air pada saat musim hujan.

Pembentukan Gubal

Gubal gaharu akan dihasilkan oleh pohon penghasil gaharu yang terinfeksi mikroba fusarium sp, datangnya mikroba fosarium sp ini bisa secara alami dan dengan menyuntikan mikroba ke pohon yang tentunya bertujuan agar pohon terinfeksi fusarium sp. Selang waktu 1-3 tahun setelah disuntik gubal gaharu baru terbentuk.

Kelas, harga dan pemasaran gaharu

Permintaan pasar terhadap gaharu terus meningkat. Selain kebutuhan peribadatan berberapa agama, gaharu juga digunakan oleh masyarakat Arab untuk sebagai siwak. Kondisi iklim yang panas dan kegemaran mengkonsumsi daging membuat tubuh mereka bau menyengat sehingga wangi gaharu digunakan sebagai pangharum.
Harga gaharu sendiri ditentukan berdasarkan kelas, adapun kelas-kelas dalam gaharu secara garis besar adalah:
1.Gubal
a.super: hitam merata, kandungan damar wangi tinggi, aroma kuat
b.super AB: hitam kecoklatan, kandungan damar wangi cukup, aroma kuat
c.sabah super: hitam kecoklatan, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat
d.kelas C: hitam banyak garis putih, kepingan kayu tipis, rapuh

2.Kemedangan
a.tanggung A: coklat kehitaman, kandungan damar wangi tinggi, aroma agak kuat
b.sabah I: coklat bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat
c.tanggung AB: coklat bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat
d.tanggung C: kecoklatan bergaris putih tipis, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat
e.kemedangan I: kecoklatan bergaris putih lebar, kandungan damar wangi sedang, aroma agak kuat
f.kemedangan II: putih keabu-abuan bergaris hitam tipis, kandungan damar wangi kurang, aroma kurang kuat
g.kemedangan III: putih keabu-abuan, kandungan damar wangi kurang,aroma kurang kuat

3.Abu/cincangan yang merupakan potongan kayu kecil hasil pengerokan atau sisa penghancuran kayu gaharu
(sumber: majalah Trubus)
Harga gaharu terus meningkat seiring dengan permintaan pasar, namun ketersediaan gaharu dari alam terus menurun, hal inilah yang mendasari budidaya gaharu. Harga gaharu super pada tahun 2001 4-5jt/kg, saat ini melambung menjadi 10-15jt/kg. Tapi sayang, peluang seperti ini Cuma diketahui oleh beberapa gelintir orang saja.
Adapun negara tujuan eksport gaharu diantaranya adalah Singapura, Timur Tengah, Taiwan, Jepang, Hongkong, Korea dan Malaysia. Adapun eksport terbanyak ke negara Singapura baru Timur Tengah di urutan ke-2. (sumber: dari berbagai sumber)


gambar gaharu

Read more....

Thursday, March 19, 2009

Membuat Tanaman Berbuah Lebat

Senang rasanya kalau kita mempunyai tanaman berbunga dan berbuah lebat, tapi seringkali bingung bagaimana caranya. Berikut ini tips agar tanaman anda berbunga atau berbuah dengan lebat:

1. Pastikan tanaman sudah cukup umur dan dalam kondisi sehat.
Tanaman yang masih terlalu muda atau sedang sakit/stress jika dipaksa agar berbunga atau bahkan sampai berbuah bisa berakibat fatal, tanaman bisa mati.

2. Pastikan dapat sinar matahari dan air yang cukup.

3. Pemangkasan.
Pemangkasan dilakukan pada dahan-dahan yang menggangu, sebagai gambaran, usahakan sinar matahari bisa mengenai dahan utama.

4. Pemberian pupuk dan hormon
Pupuk yang diperlukan pada saat pembbentukan bunga adalah pupuk dengan konsentrasi P yang tinggi dan unsur K yang juga tinggi agar bunga atau buah tidak rontok.
Pemberian hormon juga sangat perlu, karena pemberian pupuk NPK saja biasanya cuma membuat tanaman subur, daunnya hijau dan lebet tanpa bunga. Hormon yang diperlukan untuk memacu pembungaan serempak adalah hormon giberelin (GA 3).
GA 3 juga digunakan untuk pembuatan buah anggur tanpa biji, karena GA 3 ini mengakibatkan tidak terbentuknya biji karena gangguan pertumbuhan tabung sari sebelum pembuahan. Tingkat keberhasilan penghilangan biji ini mencapai hampir 100%.
Pertanyaannya sekarang, apakah biji ganitri yang diberi GA 3 bisa hilang atau minimal mengecil? Silahkan dicoba


Tapi untuk memberoleh hormon seperti ini kadang susah bukan? Makanya saya menyediakan hormon giberelin (GA 3) dan pupuk yang diperlukan agar tanaman anda segera berbunga dan berbuah dengan lebat. Kalau anda membutuhkannya bisa menghubungi saya, mudah-mudahan berhasil.

Read more....

Bibit Istimewa Kaki 2 dan kaki 3





Sering kali beberapa pembeli atau orang yang menanam ganitri menginginkan tanaman yang sempurna dalam arti tanaman cepat besar, cepat berbuah dan buahnya lebat, untuk urusan mengecilkan buah sudah tidak jadi masalah (akan saya bahas lagi nanti). Dari situlah timbul ide membuat bibit dengan pertumbuhan yang sangat cepat, yaitu dengan menambah 1 atau 2 batang bawah lagi menjadi kaki 2 atau kaki 3.
Pertumbuhan bibit dengan kaki ganda jauh lebih cepat dibanding bibit biasa (okulasi standar kaki 1) karena serapan unsur hara dari tanah lebih optimal dan pertumbuhan dahan pohon cenderung lebih lebar. Sehingga jarak tanam juga jadi lebih lebar. Bibit seperti sangat cocok ditanam didepan rumah sebagai naungan, karena tajuk dahan lebar tapi tanaman tidak terlalu tinggi. Bisa bertahan didaerah kering dan tandus karena akar yang bekerja lebih banyak.
Kekurangan bibit berkaki ganda terletak pada kakinya, jika salah satu kakinya putus, maka bibit berkaki ganda akan sama dengan bibit berkaki 1 biasa, padahal harganya lebih mahal. Disamping itu, mengirim bibit kaki 2 juga lebih susah karena cukup memekan tempat dan tidak boleh ditumpuk.
Mungkin segitu saja posting saat ini, kami menerima kritik dan saran dari pembaca sekalian. Bila ada unek-unek bisa menghubungi saya di 0856 4790 2839 atau datang langsung ke rumah.

Read more....